Nikah Kristen dan soal Perceraian


Suatu saat beberapa orang Saduki datang untuk mencobai Yesus dengan mengajukan sebuah argumen, yang mereka dasari atas pernyataan Musa didalam Ulangan 24:1, bahwa Musa pernah mengizinkan membuat surat cerai jika orang menceraikan istrinya? Matius 19:7.

Pernikahan dan masalah perceraian 2 hal yang sering mendapatkan perhatian khusus dari masyarakat Kristen. Karena realitasnya tidak saja menimpa terjadi dikalangan orang-orang yang belum mengenal Kristus, bahkan seperti yang pernah diberitakan di media-media Kristen akhir-akhir ini, dialami juga oleh seorang hamba Tuhan dengan nama besar dari sebuah negara, yang dikenal sangat diurapi dan diberkati Tuhan. Terlepas dari benar tidaknya berita terkait, ada baiknya kita membekali diri kita lebih dulu dengan pemahaman yang benar, minimal supaya ketika di realitasnya, ternyata tidak sesederhana seperti yang kita duga sebelumnya, kita tidak goncang, apalagi sampai terhanyut terbawa arus, akibat ulah dan beragam pendapat atau dalih manusia yang menyesatkan.

 

NIKAH KRISTEN? …

Yang pertama kita awali dulu bahasan tentang apa sih Kristen itu? berasal dari kata χριστιανος – atau “khristianos” yang artinya, pengikut Kristus atau sekumpulan orang-orang yang percaya kepada Kristus, sebutan yang telah baku, terutama dari sejak tahun 60an Masehi, saat pertama kali terbentuknya Jemaat mula-mula di zaman para rasul-rasul, tepatnya di jemaat Antiokhia (Kisah Rasul 11:26). Walaupun sebagai sebuah kosa-kata,  sebenarnya kata kristianos tersebut sebenarnya mengandung ejekan yang ditujukan kepada para pengikut Kristus, khususnya kepada rasul Paulus oleh Raja Herodes Agripa, bahkan dari sejak ketika Petrus dan kawan-kawan banyak mengalami penghambatan dalam pelayanan mereka, melalui tuduhan-tuduhan palsu yang dihembuskan terhadap mereka yang teraniaya karena Kristus. Jadi sebenarnya secara historis saja, sangat sulit sekali memisahkan Kristen dari realitas adanya tantangan dan aniaya, karenanya rasul Paulus mengatakan didalam Filipi 1:29, bahwa sesungguhnya Kristen bukan hanya sebatas agama atau sekumpulan orang-orang yang hanya sebatas sedang mempelajari dogma (ajaran Kristen), melainkan… Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga menderita untuk Dia. Artinya, berani menyebut diri orang Kristen, berarti siap dan mau lebih dari sekedar percaya, memberi diri untuk terdidik dalam pengenalan akan Kristus berikut dengan segala resiko dan tantangannya.

 

Sementara membahas masalah Nikah atau pernikahan, Alkitab hanya mengajarkan, Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging (Kejadian 2:24). Kata satu daging didalam pernikahan Kristen sebenarnya tidak hanya sebatas terfokus pada masalah persetubuhan diantara relasi Suami (laki-laki) dan Istri (perempuan), untuk tujuan sekedar mendapatkan keturunan, atau alasan-alasan sekedar membentuk rumah tangga yang harmonis yang dilandasi rasa ketertarikan suka sama suka. Karena disana ada sebuah “Nilai” yang membedakan pernikahan kristen dengan pernikahan yang melibatkan orang-orang yang belum mengenal Kristus, seperti yang disebutkan oleh rasul Paulus didalam Efesus 5:33, Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya.

 

Berarti Nikah Kristen bukan sebatas meninggalkan ayah dan ibu untuk menjadi satu daging seperti dalam pengertian kebanyakan orang. Melainkan suatu bentuk  kesadaran akan kesehatian dalam tanggung jawab untuk saling mengasihi dan menghormati didalam keteladanan relasi yang teramat agung antara Kristus dan jemaat-Nya. Berarti, sudah saatnya khotbah-khotbah dalam pemberkatan Nikah Kristen, tidak lagi sebatas atau sekedar mewacanakan penderitaan dan Kasih Kristus kepada jemaat-Nya dan penundukan jemaat kepada Kristus sebagai kepalanya. Lebih dari itu jemaat (kita), juga harus dididik secara lebih transparan untuk mau masuk lebih dalam lagi kepada pendewasaan dalam menerima realitas kepenuhan hidup didalam Kristus. Bahwa sesungguhnya Kristen tidak melulu membahas soal bagaimana menjadi orang yang percaya kepada-Nya seraya mendangkalkan arti dibalik janji-janji, tentang bagaimana menjadi kehidupan Nikah yang diberkati. Sekali lagi dalam konteks pernikahan Kristen, berarti mempersiapkan diri untuk menerima Kasih Karunia yang lebih dari sekedar menjadi percaya kepada-Nya, yaitu bagaimana menjadi “seorang suami yang mengasihi (menderita karena Kristus) istri” dan menjadi “seorang istri yang menghormati (menderita dan tunduk karena Kristus) suami”, hal-hal yang teramat mustahil bisa diperbuat oleh pasangan-pasangan nikah yang belum mengenal dan hidup didalam pengenalan akan Kristus.

 

Rasul Paulus secara transparan meletakkan suatu nilai dan standar yang teramat tinggi dan agung, bahwa Nikah Kristen sesungguhnya mengandung sebuah rahasia, Efesus 5:31, “Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan antara Kristus dan jemaat“, yang kesetaraannya hanya bisa ditandingi oleh rahasia Ibadah, yang juga disebutkan Paulus didalam 1 Timotius 3:16, Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita:“Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan diantara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan”, akhirnya,…

jika saja nilai yang teramat agung dan tinggi ini bisa diresapi dengan kesungguhan hati, niscaya kesadaran untuk menderita karna Kristus, tidak sebatas secara instan didemostrasikan dilevel pelayanan yang akbar, tertampak kasat mata didepan puluhan, ratusan bahkan ribuan orang, melainkan, baik seorang istri, baik suami, bisa ikut terlibat secara aktif  merasakan, menjadi saksi, bahwa ternyata pasangannya benar-benar meneladani Kristus, dalam keseharian rumah tangga mereka.

 

PERCERAIAN?

Dari latar belakang pertanyaan mereka, berdasarkan yang tertulis didalam Matius 19:3, jelas maksud mereka bukan untuk mendengarkan kebenaran, semata-mata hanya keinginan untuk mencobai Yesus. Sekalipun mereka di Matius 19:7 berupaya untuk mencari celah pembenaran, terhadap maksud dibalik pertanyaan mereka yang menjebak tersebut, seraya mengingatkan Yesus kepada yang pernah Musa izinkan, tapi bukan yang Allah firmankan kepada Musa menyangkut bagaimana sikap Allah terhadap 2 hal:  perzinahan dan perceraian itu sendiri, mari kita simak kedua hal tersebut:

 

1. Perzinahan, didalam Keluaran 20:14 ada tertulis sangat jelas sekali “Jangan berzinah”, (perbuatan zinah). Sebagai Farisi tentu mereka sangat mengetahui hukum tersebut, tidak akan pernah pudar selama didalam diri Manusia, potensi untuk mencobai Tuhan masih giat bekerja didalam diri mereka. Hukum ini tidak saja berlaku untuk mereka yang sudah menikah, tetapi kepada semua umat-Nya yang bisa membaca hukum tersebut, anak-anak, tua-muda, laki-laki-perempuan. Ketetapan Allah dalam hal bersikap terhadap perzinahan tersebut, tidak bisa diubah-ubah oleh alasan apapun (berlaku tetap). Supaya menjadi ingat-ingatan kepada mereka, bahwa mereka dipanggil keluar dari perbudakan di Mesir, untuk satu tujuan, beribadah kepada Allah yang kudus!. Artinya, ketika membahas masalah perceraian, pada dasarnya kita tidak dapat begitu saja mengenyampingkan, apa penyebab terjadinya perceraian? sampai bagaimana akibat dari perceraian?, yang bisa timbul dari keputusan untuk bercerai.

Bukan sekedar untuk diketahui, tentang kenapa Allah tidak menghendaki perceraian?, lebih dari itu adalah, supaya kita bisa melihat konsistensi Allah dalam bersikap terhadap dosa. Sehingga upaya dalam bentuk apapun, untuk melegitimasikan kemungkinan-kemungkinan kearah terjadinya pencemaran melalui perbuatan dosa Zinah tersebut, dapat semakin memperluas pelonggaran-pelonggaran terhadap perbuatan tersebut.  Komunitas Yahudi tahu persis, dirajam batu sampai mati adalah hukuman setimpal yang tidak bisa dihindari oleh para pelakunya, siapapun orangnya. Sekalipun kepada kita, hukum rajam itu tidak pada tempatnya diterapkan di tengah-tengah gereja, tetapi, bahkan untuk seorang Hamba Tuhanpun, bila kedapatan berbuat zinah, tidak akan bisa terluput dari batu-batu berbentuk sanksi oraganisatoris yang kelak bisa berimbas kepada sanksi sosial baik dari keluarganya sendiri, sampai ke masyarakat sekitarnya.

Katakanlah aturan-aturan yang sangat ketat dan kaku yang pernah Allah terapkan di tengah-tengah umat pilihan-Nya di masa Perjanjian lama tersebut, direalitasnya saat ini, dari sejak kehadiran Kristus dengan hukum yang lebih sempurna (hukum Kasih), sekarang aturan-aturan tersebut malahan sudah kita terima hanya sebatas sebuah khasanah, sebagai bahan renungan yang bisa jadi ingat-ingatan, bahwa kita masih hidup di bumi yang sudah semakin dikuasai oleh dosa. Tetapi tetap saja, kewibawaan Allah melalui hukum jangan berzinah, tidak bisa dipungkiri kebenarannya hingga di era kini. Hal itu bisa tercermin dari semakin bertambahnya perbuatan zinah yang dilakukan di zaman akhir ini, bahkan terjadi juga diantara Umat yang mengklaim dirinya sebagai Umat yang beribadah kepada Allah, baik secara kwantitatif apalagi secara kwalitas?

 

Detail sikap Musa terhadap perzinahan adalah refleksi sikap Allah terhadap dosa (zinah) tersebut:

Ulangan

24:1 “Apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya yang tidak senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu, sesudah itu menyuruh dia pergi dari rumahnya,

24:2 dan jika perempuan itu keluar dari rumahnya dan pergi dari sana, lalu menjadi isteri orang lain,

24:3 dan jika laki-laki yang kemudian ini tidak cinta lagi kepadanya, lalu menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu serta menyuruh dia pergi dari rumahnya, atau jika laki-laki yang kemudian mengambil dia menjadi isterinya itu mati,

24:4 maka suaminya yang pertama, yang telah menyuruh dia pergi itu, tidak boleh mengambil dia kembali menjadi isterinya, setelah perempuan itu dicemari; sebab hal itu adalah kekejian di hadapan TUHAN. Janganlah engkau mendatangkan dosa atas negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu.

Kalau diamati sepintas ada kesan seolah Allah melalui Musa menghendaki terjadinya perceraian ketika seorang suami mendapati ada yang tidak senonoh pada istrinya, padahal tidak!. Karena ayat-ayat tersebut diatas, membahas soal akibat yang harus diterima seorang istri ketika didapati oleh suaminya, ada yang tidak senonoh pada dirinya. Menjadi semakin jelas ketika zinah itu jadi sedemikian berkembang manakala dia memberi diri menjadi istri dari laki-laki yang lain. Hukum mengatur, jika istri itu kembali untuk berkumpul lagi dengan suami pertamanya, atas dasar kewibawaan dan kekudusan Allah di negeri yang Dia berikan, suami itu akan dianggap oleh Tuhan telah mendatangkan kecemaran ke tengah-tengah umat, apabila suami tersebut menerima kembali perempuan yang sudah tercemar tersebut.

2. Perceraian: bisa dipastikan, bahwa hampir sebagian besar karena ada penyebabnya, bahkan akibat dari perceraian bisa jadi jika tanpa kemurahan Tuhan malahan bisa semakin memperluas kemungkinan terjadinya perzinahan yang semakin bertambah parah. Oleh karenanya Yesus membuat suatu garis tegas antara kenapa Musa mengizinkan diterbitkannya surat cerai? disatu sisi dengan Allah yang tidak menghendaki perceraian! disisi yang lainnya.

Ada keselarasan pengertian diantara pendapat Rasul Paulus dengan Yesus tentang perceraian (di PB), khusunya dalam hal meneguhkan yang pernah Musa katakan (di PL) menyangkut masalah perceraian, sekalipun Rasul Paulus tidak membahas tentang surat cerai, bahwa alasan-alasan menyangkut diterbitkannya surat cerai yang telah diatur oleh Musa, menurut Yesus adalah bukti adanya “ketegaran hati dipihak manusia” (Matius 19:8), seperti juga contoh yang terkutip dari nats Perjanjian Lama berikut ini:

 

~ketika seorang suami menemukan yang tidak senonoh pada diri istrinya:”Apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya yang tidak senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu, sesudah itu menyuruh dia pergi dari rumahnya (Ulangan 24;1)

~ketika laki-laki yang ke 2 yang menjadi suami ke 2nya tidak mencintai perempuan itu lagi atau mati: dan jika laki-laki yang kemudian ini , tidak cinta lagi kepadanya lalu menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu serta menyuruh dia pergi dari rumahnya,  (Ulangan 24:2a)

~ketika laki-laki yang ke 2 akhirnya mati, setelah menulis surat cerai dan memerintahkan perempuan itu pergi dari rumahnya …atau jika laki-laki yang kemudian mengambil dia menjadi isterinya itu, mati (Ulangan 24:2b)

Bandingkan dengan yang Yesus katakan didalam Matius 5:31-32 tentang firman yang tertulis didalam Ulangan 24:1-2, dengan yang Rasul Paulus katakan didalam 1 Korintus 7:15 juga tentang firman yang tertulis didalam Ulangan 24:1-2 . Artinya, yang patut diketahui oleh semua orang yang sudah hidup didalam Iman kepada Allah didalam nama Tuhan Yesus Kristus, perceraian adalah sebuah keniscayaan akibat dari adanya ketegaran hati dan dosa dipihak manusia, dan bukan karena kehendak Allah!. Sekalipun firman-Nya melalui Musa memberikan aturan-aturan seputar ditimbulkannya penerbitan surat cerai tersebut, ketika manusia tidak lagi bisa mengatasi dosanya, tujuannya supaya pencemaran akibat dosa itu tidak merusak anak-anak kerajaan-Nya.


Yang jelas menurut rasul Paulus tidak ada alasan bagi seorang yang sudah mengenal Kristus, menceraikan istri atau suaminya dengan alasan apapun, kecuali jika pasangannya yang bukan berIman memutuskan untuk bercerai dari orang yang beriman. Adapun pengecualian karena alasan zinah yang tertulis didalam Matius 5:32, sekali lagi hal itupun harus diartikan sebagai akibat adanya “perbuatan zinah” dipihak manusia itu sendiri (1 Korintus 7:15), dan bukan karena kehendak Allah.

 

Demikianlah yang dimaksudkan oleh Firman Allah, Musa, Yesus, dan rasul Paulus, terangkum dengan jelas melalui surat-surat Paulus berikut ini:

1 Korintus 7:10-15,

10/ Kepada orang-orang yang telah kawin aku–tidak, bukan aku, tetapi Tuhan–perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.

11/ Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya. Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya.

12/ Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia.

13/ Dan kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu.

14/ Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya. Andaikata tidak demikian, niscaya anak-anakmu adalah anak cemar, tetapi sekarang mereka adalah anak-anak kudus.

15/ Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat. Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera. ~selesai~

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: