.. oleh dustaku kemuliaan-Nya melimpah ..?


Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa? Roma 3:1-(7).

Dalam konteks bahasan tersebut diatas sebenarnya kalau mau jujur patut diakui agak sulit untuk dipahami, baik kedalaman maknanya, apalagi untuk menelusuri kepastian kebenarannya, Bagaimana sesungguhnya atau kebenaran apa sebenarnya yang melatarbelakangi tulisan atau surat rasul Paulus tersebut?, kesan sepintas yang bisa kita tangkap dari ayat tersebut apabila kita tidak berhati-hati (waspada), seolah-olah rasul Paulus adalah seorang pendusta yang sudah melegitimasi dustanya dengan menggunakan dalil pembuktian terhadap kesuksesannya dalam pelayanan?!..

Sebenarnya tidak demikian adanya, karena kalau menyimak ayat-ayat sebelumnya (ayat 1-6) menjadi semakin jelas bagi kita, bahwa rasul Paulus mengawali bahasannya dengan memberikan garis pemisahan yang sangat jelas dan tegas antara Allah disatu sisi sebagai satu-satunya yang benar, dengan.. (bagian ini yang perlu dicermati dengan teliti) Manusia!, yang disebutnya didalam Roma 3:4 dan Roma 3:10 tidak ada yang benar (pembohong). Dalam hal ini Paulus memilih untuk menggunakan bangsanya sendiri Yahudi  sebagai ukuran dan standar kebenaran. Sekalipun mereka, baik sebagai individu, komunitas bahkan sebagai sebuah bangsa, dikatakan oleh Paulus, (katakanlah) ada diantara mereka yang tidak setia, tetap pada dasarnya benang merahnya adalah, pada mereka ada banyak kelebihan, karena kepada merekalah pertama kali Allah nyatakan Firman dan kebenaran-Nya.

Artinya, kesetiaan Allah kepada mereka, tidak bisa ditentukan, dipengaruhi apalagi dibatalkan, baik oleh sikap, perbuatan (ketidaksetiaan) mereka kepada Allah (Roma :3-4). Tapi tidak berarti bahwa mereka bisa terluput dari murka Allah akibat ketidaksetiaan mereka sendiri. Allah juga harus tetap dan selalu konsisten menegakkan keadilan-Nya di bumi yang sudah dikuasai oleh dosa akibat tipu daya Iblis, sekalipun hal tersebut harus dimulai-Nya dari tengah-tengah Umat Pilihan-Nya, karena dalam pandangan seorang Paulus, jika Allah tidak menunjukkan kesetiaan dan keadilan-Nya kepada Umat-Nya, bagaimana Allah bisa menyatakan sikap yang sama kepada dunia diluar komunitas Yahudi?, dalam hal ini katakanlah kita yang bukan berasal dari Yahudi.

Roma 3:5, Tetapi jika ketidakbenaran kita menunjukkan kebenaran Allah, apakah yang akan kita katakan? Tidak adilkan Allah-aku berkata sebagai Manusia (tidak sebagai rasul)-jika Ia menampakkan murka-Nya?

Roma 3:6, Sekali-kali! Andaikata demikian, bagaimanakah Allah dapat menghakimi dunia?

Penjelasan tersebut memang harus diperhatikan dengan kesungguhan hati, sebab kalau tidak, bisa menimbulkan kesewenang-wenangan yang berakibat kepada penyalahgunaan terhadap Kasih Allah. Bahwa sebenar apapun kebenaran yang telah, sedang dan akan Allah kerjakan melalui kehadiran Kristus di tengah-tengah sidang jemaat-Nya (karna pertimbangan adanya kejahatan dan dosa yang masih berkuasa di muka bumi ini), kebenaran akan tetap selalu berpusat kepada Allah sebagai satu-satunya yang benar. Untuk itu Paulus mengatakan bahwa kedalaman dan luasnya Hikmat Allah yang tak terselidiki, oleh Paulus disadari sebagai bentuk kedaulatan Allah yang telah mengurung semua Manusia (termasuk Umat Pilihan-Nya), kedalam lembah ketidaktaatan (Roma 11:32-33),

Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua.

“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah!, Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!.”

Jadi melalui Roma 3:7  rasul Paulus sebenarnya bukan membahas tentang “perbuatan” Manusia atau perbuatannya sebagai manusia pilihan Allah sekalipun, tapi dia membahas tentang “kesetiaan” Allah serta “keadilan” Allah terhadap seluruh umat manusia, tidak terkecuali dirinya sendiri dihadapan Allah sebagai satu-satunya yang benar. Simak saja yang dia (Paulus) katakan didalam Roma 3:8, “Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan, bahwa kita berkata: “Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya.” Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman!”

~Salam Damai Sejahtera~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: