Nikah dan mempelai Kristus


Salah satu hal yang sering menghambat pertumbuhan kerohanian gereja dan kita sebagai Jemaat Kristus dalam memahami rahasia-rahasia firman Tuhan adalah, kecenderungan kita mengkultuskan sebuah dogma dan ajaran tertentu berikut dengan simbol-simbolnya sejauh untuk kepentingan pembenaran (Manusia) sesaat. Sekalipun hal tersebut, juga merupakan refleksi dari ketidakmampuan kolektif dari sifat seluruh umat manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah dalam (terhadap) memahami  kedalaman dan luasnya hikmat Tuhan. Roma 11:32-33 ; Galatia 3:22.

 

 

Termasuk dalam bahasan topik diatas hampir sebagian besar Kristen telah membiarkan diri mereka berlarut-larut, lebih berminat untuk dipengaruhi dan terpengaruh oleh hasil (akibat) ulah (perbuatan) dan kegagalan manusia dalam memenuhi keutuhan kebenaran terkait. Padahal seharusnya setiap kebenaran yang sudah tertulis didalam Alkitab, diterima secara utuh dan obyektif untuk melengkapi, memperkaya relasi subyektif Imanen kita terhadap Tuhan sebagai Firman itu sendiri.

 

 

Nikah dan mempelai Kristus 2 hal yang berbeda!

Yang pertama (Nikah) adalah perwujudan dari rencana Allah, hasil kreasi Firman Allah kepada Manusia, dari sejak pertama kali Manusia Adam (dan Hawa) diciptakan, berikut dengan maksud dan tujuannya, semata-mata supaya Manusia bisa beranak cucu, demikian mereka bisa memenuhi bumi ini untuk tujuan diberkati, menggembalakan untuk  memimpin seluruh (mahluk2) ciptaan Allah yang lainnya, kepada tugas dan tanggung jawab memuliakan kebesaran, kearifan dan keagungan Pencipta-Nya,

 

Kejadian 1:28 ~ Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka:”beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkan itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” 

 

Dan untuk tujuan yang mulia tersebut, penulis Kitab Kejadian 2:24,  dan Rasul Paulus  didalam Efesus 5:31 (sekalipun mereka hidup di zaman yang berbeda), oleh Allah telah dibuat bersehati dalam menuliskan satu ayat yang sama,

“Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.” 

 

 

Terlepas dari maksud dan tujuan mulia dipihak Allah, dibalik bertambahnya jumlah Manusia dimuka bumi ini, kejatuhan Umat Manusia kedalam dosa bisa kita jadikan sebuah pertimbangan yang matang, supaya kita berhati-hati dalam menyikapi ayat-ayat terkait yang ada tertulis didalam Alkitab. Sikap sembrono yang dipicu oleh hawa nafsu yang rendah bisa mengakibatkan penafsiran yang fatal, dan pada gilirannya bisa berdampak kepada penyesatan. Untuk maksud tersebut Rasul Paulus telah meletakkan dasar-dasar kebenaran secara akurat tepat dan benar  melalui beberapa tulisannya, bahwa:

 

~ Nikah adalah masalah Alamiah yang bukan Rohaniah,

Artinya, membahas masalah Nikah berarti membahas sebuah keadaan / relasi yang melibatkan Manusia Alamiah didalam rancangan Allah. Sementara fakta menyangkut kejatuhan Adam dan Hawa (manusia) kedalam dosa, adalah faktor lain menyangkut kegagalan dan ketidaksetiaan Manusia kepada Allah. Tindakan dan upaya-upaya dalam bentuk apapun, untuk mencampuradukkan rencana Allah yang mulia terhadap kehidupan Nikah dengan cara  meniadakan fakta kejatuhan Manusia kedalam dosa seperti yang disebutkan diatas, bisa mengakibatkan penyimpangan terhadap kebenaran termaksud.  Simak saja apa yang Allah katakan kepada Adam dan Hawa sebelum mereka jatuh kedalam dosa, bahwa mereka bisa menikmati  semua buah-buah  yang ada dalam taman itu, tanpa harus memberontak (melanggar) terhadap ketentuan Tuhan menyangkut buah dari Pohon Pengetahuan baik dan jahat. Ini adalah bukti bahwa sesungguhnya Allah berkehendak supaya Manusia melalui kehidupan Nikahnya, tetap terfokus kepada apa yang Allah kehendaki, dan bukan kepada apa yang Manusia inginkan. Adalah hal yang jelas berbeda sama sekali dengan realitas kejatuhan Manusia kedalam dosa, sebagai buah dari tipu daya Iblis yang telah menggunakan Hikmat Allah untuk memperdaya manusia, untuk tujuan pelampiasan dusta-nya terhadap kedaulatan Allah.

 

Silahkan disimak dua hal dibawah ini, membuktikan perbedaan yang sangat mencolok antara Nikah dalam pandangan Allah dengan Nikah dalam konteks manusia pendosa yang telah kehilangan hadirat Allah:

A/. Sebelum manusia jatuh kedalam dosa: Kejadian 2:23, Lalu berkatalah manusia (Adam) itu:”Inilah dia, tulang dari tulangku, dan daging dari dagingku. Ia (Hawa) akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.”  Begitu kuatnya hadirat Allah didalam diri Adam tercermin malalui bagaimana ia menyikapi kehadiran Hawa dalam hidupnya, tidak memandang perempuan (Hawa),sebagaimana sekarang umumnya laki-laki memandang perempuan. Sekalipun firman Tuhan jelas mengatakanbahwa Adam saat itu benar-benar sadar, yang dihadapinya saat itu bukan mahluk Rohaniah sejenis malaikat atau sejenisnya, melainkan benar-benar Perempuan seutuhnya! (Alamiah juga), yang diambil atas kehendak Allah, dibagun dihadirkan murni oleh tangan Allah sendiri, dari kehendak dan alasan yang sama, bahwa mereka (Adam & Hawa) Allah persiapkan untuk sebuah tujuan yang sangat mulia.

 

 

Bisa menjadi catatan penting untuk digarisbawahi, bahwa Allah mempunyai kehendak dan rencana, sangat jauh berbeda sama sekali dengan yang biasa kita duga dan pikirkan sebagai manusia pendosa terutama menyangkut penciptaan mahluk alamiah pertama tersebut. Supaya dari pasangan alamiah tersebut, bumi bisa dipenuhi oleh keturunan mereka  untuk satu tujuan, menjadi Imam-Imam, baik atas kehendak bahkan oleh tangan Allah sendiri (bandingkan dengan Matius 1:25, relasi Yusuf dan Maria terkait dengan kehadiran Yesus ) atas seluruh ciptaan Allah yang lainnya.

 

Puji Tuhan! bahwa melalui kehadiran Yesus Kristus mata hati dan akal budi kita dibuka untuk menyelami dengan kesungguhan hati, hal-hal yang rohaniah yang datang dari pihak Tuhan. Bahwa menjadi mempelai Kristus adalah, relasi antara Suami dan Istri (laki-laki dan perempuan), sama sekali tidak membahas hal-hal yang bersifat kefanaan sekalipun kehidupan Nikah itu juga melibatkan mahluk-mahluk yang alamiah.

 

Artinya, sebagaimana yang disarankan oleh Rasul Paulus didalam 1 Korintus 7:5, supaya laki-laki dan perempuan yang telah menikah bisa membedakan, bahwa mereka adalah mahluk-mahluk alamiah (laki-laki dan perempuan) yang rentan terhadap godaan dosa, kesepakatan untuk menjadi lebih bersehati melalui kehidupan doa mereka masing-masing, bisa semakin menimbulkan kesadaran untuk lebih bersehati lagi, dengan demikian dijauhkan dari bencana perceraian –


“Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak!.”

 

 

B/. Setelah Manusia jatuh kedalam dosa: Kejadian 3:12, “Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Katakanlah ayat ini diterima hanya sebatas sebuah narasi (kisah/cerita) peringatan dari masa lampau yang mungkin oleh beberapa insan yang baru menikah dan sudah diberkati di gereja, mereka yakini tidak bakal bisa menimpa kehidupan nikah Kristen mereka. Yang tidak bisa dipungkiri adalah, bukan saja sebatas rentan terhadap dosa, karena baik dari motif sampai keinginan dan hasrat, di realitasnya jika tanpa kemurahan Tuhan adalah jauh lebih besar kecenderungan untuk membangun pernikahan hanya sebatas kepentingan hawa dan nafsu dan seabrek impian-impian duniawi.

 

 

Yang kedua (mempelai Kristus), Realitas tersebut secara tidak langsung seharusnya segera menimbulkan kesadaran didalam diri seseorang (entah laki-laki entah perempuan) untuk merenungkan lebih dulu yang Paulus katakan didalam Efesus 5:31-33, bahwa selain alasan-alasan seseorang dihadirkan ke bumi melalui pernikahan ayah dan ibu (orang tua), keputusan untuk menikah, adalah keputusan untuk menjadi satu daging dengan pasangan-nya!, Jadi bisa dibayangkan jika ada insan Kristen, yang tidak membekali dirinya dengan perkara-perkara rohani, menyangkut relasi pribadinya dengan Kristus, sudah bisa ditebak dalam perjalanan selanjutnya, mereka akan kehilangan landasan atau alasan untuk mempertahankan keutuhan Nikah mereka, selain hanya sebatas sudah merasa maximum dalam menikmati romantika, indah dan segala bentuk kegemerlapan cinta yang sifatnya sesaat. Seperti yang digambarkan melalui kisah pernikahan di negeri Kana, betapa kehadiran Kristus telah memberikan sentuhan dan warna berikut rasa yang benar-benar baru. Melalui kehadiran-Nya Yesus dapat menimbulkan kesadaran yang baru tentang bagaimana seharusnya kita memandang sebuah pernikahan, bahwa upaya-upaya manusia dalam membentuk kebahagiaan, bila tanpa Yesus sehebat apapun pernikahan itu dirancang, kelak akan berakhir dengan keputusasaan.

 

 

~Rahasia perkara-perkara Rohaniah dibalik Nikah yang Alamiah

Karena pada dasarnya tanpa Kristus, mustahil seorang Suami (laki-laki) bisa bersikap sebagaimana layaknya jemaat yang mendapatkan keteladanan Kasih melalui karya  pengorbanan Kristus untuk tujuan keselamatan jemaat-Nya, terutama menyangkut kehadiran Istrinya. Demikian juga halnya dengan perempuan, akan banyak mengalami keputusasaan, ketika menyadari betapa dahsyatnya malapetaka yang akan muncul akibat dari keputusannya untuk menjadi satu daging dengan laki-laki yang telah dipilih untuk menjadi suaminya. Apabila didalam diri mereka  tidak berbekal pengalaman hidup didalam sifat2 penaklukkan diri Kristus, yang tanpa perbantahan dihadapan bapa-Nya, tunduk sampai mati teraniaya sebagai manusia yang beribadah, untuk keselamatan sesama-Nya Manusia, sudah bisa dipastikan tidak ada seorangpun yang sanggup mempertahankan nikahnya. “Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.” demikianlah yang dijelaskan oleh Rasul Paulus tentang Nikah dan rahasia dibalik Nikah itu sendiri.

 

Secara tepat dan benar Rasul Paulus menempatkan peranan seorang Suami tidak hanya sebatas menafkahi dan menyalurkan cinta sesaat yang semata-mata sebatas sarat dengan kepentingan hawa nafsu dunia yang mengarah kepada kepentingan diri sendiri, lebih dari itu adalah, seorang Suami berkewajiban memiliki nilai-nilai Ibadah didalam dirinya, agar peranannya sebagai seorang Suami, sekaligus menyatakan dan menyaksikan baik melalui, pikiran, perasaan, perkataan sampai kepada sikap dan perbuatannya, bahwa didalam Kristus, seorang Suami selalu memiliki pengharapan yang tidak habis-habisnya terkait dengan keselamatan Istrinya dari malapetaka dosa,

 

“Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana KRISTUS telah mengasihi JEMAAT dan telah menyerahkan diri-Nya baginya; untuk menguduskannya, sesuadah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman”, demikian halnya kepada Istri, katanya:

“Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dia-lah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah istri kepada suami dala segala sesuatu”

 

Satu-satunya kendala tidak terwujudnya relasi antara Kristus dengan jemaat-Nya di tengah-tengah keluarga dan rumah tangga kristen adalah, ketika keteladanan Kristus kepada jemaat-Nya menjadi disamarkan, kalaupun diterima diterima cuma sebatas wacana, khotbah, hafalan berupa sekumpulan kata-kata dalam pujian dan penyembahan, bahkan yang lebih memprihatinkan adalah, ketika para tokoh gereja sampai jemaat, sudah menjadikan ajaran Kristus tersebut sebatas dogma yang sudah dikultuskan sedemikian rupa untuk kenyamanan sesaat, yang tidak benar-benar terarah lagi kepada realitas  sebagaimana seharusnya kedaulatan dari sejatinya relasi Kristus dan keselamatan jemaat-Nya dijunjung setinggi mungkin, bagi hormat dan kemuliaan nama-Nya. Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: